Kenapa Kereta Api Tidak Bisa Ngerem Mendadak, Berikut Penjelasannya

×

Kenapa Kereta Api Tidak Bisa Ngerem Mendadak, Berikut Penjelasannya

Bagikan berita
Kenapa Kereta Api Tidak Bisa Ngerem Mendadak, Berikut Penjelasannya
Kenapa Kereta Api Tidak Bisa Ngerem Mendadak, Berikut Penjelasannya

Kongkrit.com - Kereta Api adalah salahsatu moda transportasi massal yang sangat digemari masyarakat. Seperti yang kita ketahui, kereta api merupakan sebuah rangkaian rangkaian kereta/gerbongyang ditarik oleh lokomotif. Kereta api bisa terdiri dari lima hingga delapan kereta dengan satu kereta memiliki kapasitas yang bervariasi mulai dari 30 hingga 80 penumpang. Jika diperkirakan, dalam sekali perjalanan kereta api bisa mengangkut lebih dari 300 penumpang.Melihat kapasitas yang cukup besar ini, kereta api sudah memenuhi aspek kapasitas tinggi. Tak hanya itu, dengan kapasitas ini kereta api bisa mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang ada di jalanan secara signifikan. Dengan itu, permasalahan kemacetan yang sering kita dengar di berbagai media bisa terselesaikan. Bahkan, kapasitas yang besar ini tidak hanya berlaku untuk kereta penumpang. Kereta kargo pun memiliki kapasitas yang besar jika dibandingkan dengan truk kontainer dan pesawat kargo.

Namun, akhir –akhir ini Kereta Api sering terjadi kecelakaan yang di karenakan prilaku masyarakat yang tidak tertib dalam berkendara. Padahal, Kereta Api mempunyai jalur terpisah dari jenis angkutan lain, sehingga masyarakat diharapkan selalu berhati –hati dalam berkendara, terutama saat melintas pada jalur Kereta Api.Disisi lain, sistim pengereman Kereta Api tidak bisa disamakan dengan sistim pengeraman kendaraan angkutan lainnya. Karena Kereta Api tidak bisa melakukan pengereman secara mendadak, maka dari itu butuh skill dari seorang masinis untuk memberhentikannya.

Menurut keterangan, VP Public Relations KAI, Joni Martinus dilansir dari kabarbumn.com, hal yang menyebabkan kereta api tidak dapat berhenti mendadak adalah karena panjang dan bobot kereta api. Makin panjang dan berat rangkaiannya, maka jarak yang dibutuhkan kereta api untuk dapat benar-benar berhenti akan semakin panjang.“Di Indonesia, rata-rata 1 rangkaian kereta penumpang terdiri dari 8-12 kereta (gerbong) dengan bobot mencapai 600 ton, belum termasuk penumpang dan barang bawaannya. Dengan kondisi tersebut, maka akan dibutuhkan energi yang besar untuk membuat rangkaian kereta api berhenti,” ujarnya.

Selain itu kata Joni, sistim pengereman yang dipakai pada kereta api di Indonesia pada umumnya menggunakan sistem jenis rem udara. Cara kerjanya adalah dengan mengompresi udara dan disimpan hingga proses pengereman terjadi. Saat masinis mengaktifkan sistem pengereman, udara tadi akan didistribusikan melalui pipa kecil di sepanjang roda dan membuat friksi pada roda.Friksi inilah yang akan membuat kereta berhenti.“Walaupun kereta api telah dilengkapi dengan rem darurat, rem ini tetap tidak bisa berhenti mendadak. Meskipun masinis telah melihat ada yang menerobos palang kereta, selanjutnya melakukan proses pengereman, maka tetap akan membutuhkan suatu jarak pengereman agar benar–benar berhenti,” jelasnya.

Baca juga:

Adapun faktor yang berpengaruh pada jarak pengereman yaitu:1.Kecepatan kereta api Semakin tinggi kecepatan kereta api, maka semakin panjang jarak pengereman.

2. Kemiringan/lereng (gradient) jalan rel (datar, menurun, atau tanjakan).3. Persentase pengereman yang diindikasikan dengan besarnya gaya rem.

4. Jenis kereta api (kereta penumpang/barang).5. Jenis rem (blok komposit/blok besi cor).

6. Kondisi cuaca.7. Dan berbagai faktor tekhnis lainnya

Joni mengatakan, rem pada rangkaian kereta api bekerja dengan tekanan udara.Sistem kinerja rem pada roda dihubungkan ke piston dan susunan silinder.Mekanisme yang mengurangi tekanan udara di kereta api akan memaksa rem mengunci dengan roda. Jika tekanan dilepaskan secara tiba-tiba, maka akan menyebabkan pengereman yang tidak seragam, sehingga rem bekerja lebih dulu dari titik keluarnya udara. Pengereman yang tidak seragam dapat menyebabkan kereta atau gerbong tergelincir, terseret, bahkan terguling."Kami terus mengingatkan kembali, bahwa tata cara melintas di perlintasan sebidang adalah berhenti di rambu tanda "STOP", tengok kiri-kanan, apabila telah yakin aman, baru bisa melintas," ungkap Joni.

Dikatakan, Palang pintu, sirine dan penjaga perlintasan adalah alat bantu keamanan semata. Alat utama keselamatannya ada di rambu-rambu lalu lintas bertanda "STOP" tersebut."Jadi apabila masyarakat Ketika di perlintasan sudah melihat adanya kereta api walaupun masih jauh, maka seharusnya berhenti terlebih dahulu hingga kereta api tersebut lewat," pungkasnya. (ARS)

Editor : Siti Rahmadani Hanifah
Sumber : 230335
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini